bisa jadi tokoh-tokoh di dalam cerita sunda memang berpengaruh terhadap karakter orang-orang sunda. utamanya si kabayan.
atau mungkin juga, karakter-karakter tersebut memang dibuat dari beberapa karakter umum manusia sunda.
karakter manusia sunda
oleh rezameutia
Si Kabayan
Tokoh Si Kabayan adalah tokoh cerita rakyat Sunda turun temurun yang paling populer dan sangat digemari. Si Kabayan dianggap sebagai tokoh ciptaan manusia Sunda yang hidup berpegang kepada pedoman 'cageur jeung bageur' (sehat lahir batin dan berbudi baik). Tipikal manusia Sunda yang ramah tamah kepada tamu, yang air mukanya lebih banyak cerah daripada masam, tidak bersikap aniaya kepada sesama manusia, gemar bergurau berkelakar, dan suka menertawakan ketololan diri sendiri.
Si Kabayan mengajak orang tertawa bersenang hati, cerita-cerita Si Kabayan bukan lah lelucon kosong tetapi sarat dengan isi tentang kehidupan. Si Kabayan merupakan tokoh luar biasa yang bisa menerima kritik atas dirinya sendiri.
Hanya manusia yang sehat lahir batin saja yang dapat menerima kritik dirinya sendiri dan menertawakan dirinya sendiri. Si Kabayan adalah puncak manifestasi manusia yang sudah menemukan puncak kesehatan lahir batin, yaitu manusia yang sudah 'teu naon-naon ku naon-naon' (tidak merasa apa-apa oleh apapun juga).
Ada cerita dari Prancis karya pengarang Moliere (1622-1673) yang berjudul 'Le Medicin Malgre Lui'. Dalam cerita tersebut tokoh Prancis yang bernama Sganaralle sangat mirip dengan karakter Si Kabayan yang pemalas namun cerdas,
pandai berbicara, dalam arti tak pernah terdesak ketika berbicara dengan orang lain, baik istrinya sendiri, para pamong praja ataupun mertuanya sendiri. Persis seperti karakter Si Kabayan dalam berbicara menghadapi Iteung, Ambu, dan Abah.
Sangkuriang
Berlainan dengan Si Kabayan, Sangkuriang adalah manifestasi jiwa yang terlalu yakin dengan kebenaran dirinya sendiri, sehingga tidak mau menerima kebenaran orang lain. Sangkuriang adalah karakter 'naon-naon ku naon-naon' (merasa apa-apa oleh apapun juga) dan yang tidak mau kebenaran orang lain sama sekali.
Sangkuriang adalah manusia yang penuh percaya diri, ketika ditantang oleh Dayang Sumbi agar membuat telaga dan perahu dalam semalam, segera menyanggupinya. Kesanggupan itu dapat dipenuhi pada waktunya, kalau saja Dayang Sumbi tidak membuat fajar palsu dari 'boeh rarang' (tenunan kain putih). Karena kecewa dan marah, Sangkuriang menendang perahu yang sedang dibuatnya sehingga menjelma menjadi Gunung Tangkuban Perahu.
Tokoh Sangkuriang adalah tokoh yang menyatukan segala hal yang ada diluar dirinya dan di dalam dirinya sendiri, berpadu dalam AKU-nya. Manusia sentral yang sekaligus merupakan dewa dan juga hewan, manusia yang jiwanya bergolak menyalakan api berkobar-kobar. Manusia yang menganggap dirinya sendiri sebagai Sumber Segala.
Keduanya ini sebenarnya merupakan kekayaan batin sifat manusia yang saling bertentangan satu sama lain. Hanya saja, cerita Sangkuriang akhir-akhir ini tidak digemari oleh masyarakat Sunda, mungkin disebabkan sifat ke-Aku-an yang terlalu egoistis. Padahal dari kedua cerita rakyat ini, jika diambil hikmah dan isi ceritanya, merupakan pelajaran sifat dan karakter batin manusia yang saling bertentangan satu dengan yang lainnya.
atau mungkin juga, karakter-karakter tersebut memang dibuat dari beberapa karakter umum manusia sunda.
karakter manusia sunda
oleh rezameutia
Si Kabayan
Tokoh Si Kabayan adalah tokoh cerita rakyat Sunda turun temurun yang paling populer dan sangat digemari. Si Kabayan dianggap sebagai tokoh ciptaan manusia Sunda yang hidup berpegang kepada pedoman 'cageur jeung bageur' (sehat lahir batin dan berbudi baik). Tipikal manusia Sunda yang ramah tamah kepada tamu, yang air mukanya lebih banyak cerah daripada masam, tidak bersikap aniaya kepada sesama manusia, gemar bergurau berkelakar, dan suka menertawakan ketololan diri sendiri.
Si Kabayan mengajak orang tertawa bersenang hati, cerita-cerita Si Kabayan bukan lah lelucon kosong tetapi sarat dengan isi tentang kehidupan. Si Kabayan merupakan tokoh luar biasa yang bisa menerima kritik atas dirinya sendiri.
Hanya manusia yang sehat lahir batin saja yang dapat menerima kritik dirinya sendiri dan menertawakan dirinya sendiri. Si Kabayan adalah puncak manifestasi manusia yang sudah menemukan puncak kesehatan lahir batin, yaitu manusia yang sudah 'teu naon-naon ku naon-naon' (tidak merasa apa-apa oleh apapun juga).
Ada cerita dari Prancis karya pengarang Moliere (1622-1673) yang berjudul 'Le Medicin Malgre Lui'. Dalam cerita tersebut tokoh Prancis yang bernama Sganaralle sangat mirip dengan karakter Si Kabayan yang pemalas namun cerdas,
pandai berbicara, dalam arti tak pernah terdesak ketika berbicara dengan orang lain, baik istrinya sendiri, para pamong praja ataupun mertuanya sendiri. Persis seperti karakter Si Kabayan dalam berbicara menghadapi Iteung, Ambu, dan Abah.
Sangkuriang
Berlainan dengan Si Kabayan, Sangkuriang adalah manifestasi jiwa yang terlalu yakin dengan kebenaran dirinya sendiri, sehingga tidak mau menerima kebenaran orang lain. Sangkuriang adalah karakter 'naon-naon ku naon-naon' (merasa apa-apa oleh apapun juga) dan yang tidak mau kebenaran orang lain sama sekali.
Sangkuriang adalah manusia yang penuh percaya diri, ketika ditantang oleh Dayang Sumbi agar membuat telaga dan perahu dalam semalam, segera menyanggupinya. Kesanggupan itu dapat dipenuhi pada waktunya, kalau saja Dayang Sumbi tidak membuat fajar palsu dari 'boeh rarang' (tenunan kain putih). Karena kecewa dan marah, Sangkuriang menendang perahu yang sedang dibuatnya sehingga menjelma menjadi Gunung Tangkuban Perahu.
Tokoh Sangkuriang adalah tokoh yang menyatukan segala hal yang ada diluar dirinya dan di dalam dirinya sendiri, berpadu dalam AKU-nya. Manusia sentral yang sekaligus merupakan dewa dan juga hewan, manusia yang jiwanya bergolak menyalakan api berkobar-kobar. Manusia yang menganggap dirinya sendiri sebagai Sumber Segala.
Keduanya ini sebenarnya merupakan kekayaan batin sifat manusia yang saling bertentangan satu sama lain. Hanya saja, cerita Sangkuriang akhir-akhir ini tidak digemari oleh masyarakat Sunda, mungkin disebabkan sifat ke-Aku-an yang terlalu egoistis. Padahal dari kedua cerita rakyat ini, jika diambil hikmah dan isi ceritanya, merupakan pelajaran sifat dan karakter batin manusia yang saling bertentangan satu dengan yang lainnya.