Showing posts with label sunda. Show all posts
Showing posts with label sunda. Show all posts

Wednesday, September 10, 2008

Keserasian Islam dan Sunda

Oleh Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi
Kebudayaan menurut Koentjoroningrat dalam konteks orang Sunda yang dikenal sangat religius, adalah sistem religi. Mudah diterimanya agama Islam diartikulturasi dan diintegrasi dalam perilaku dan kehidupan orang Sunda, menjadi bagian tak terpisahkan dalam kebudayaan dan filosofi Sunda. Ini karena terdapat perpaduan, kesamaan bahkan penguatan antara nilai-nilai Sunda buhun dan ajaran agama Islam.
Skap religiositas orang Sunda itu seperti terungkap dalam peribahasa, "diri sasampiran awak sasampaian". Artinya, semuanya merupakan kepunyaan Allah SWT (Gusti nu murbeng alam). Oleh karena itu, manusia Sunda dalam kehidupannya selalu menggunakan rasa (boga rasa rumasa, ngaji diri). Bahkan dalam banyak hal, orang Sunda selalu bersyukur atas apa yang diterimanya, sehingga "syukuran" bagian dari tradisi atas nikmat yang diperolehnya.
Lebih dari itu, ketika ditimpa musibah ia selalu bersyukur dengan istilah "untung". Bahkan ketika musibah meninggal terjadi sekalipun tidak jarang orang Sunda masih terucap kata "untung", "Untung maot coba mun hirup meureun jadi tanpa daksa". Dalam terminologi Islam ini disebut qanaah, yang artinya merasa cukup dengan yang ada khususnya masalah dunia sebagai kebajikan yang dianjurkan.

Jika dikategorikan, ada beberapa pandangan hidup orang Sunda tentang berbagai hal mengenai manusia sebagai pribadi, manusia dengan masyarakat, dengan alam, dengan Tuhan dan hakikat manusia. Misalnya, dalam mencapai tujuan hidup, orang Sunda harus mempunyai keseimbangan yang disebut sineger tengah yang berarti wajar, tidak berlebihan. Dalam bahasa Islam disebut ummatan wasathan, umat yang pertengahan.
Hal itu tertuang dalam petuah, "jaga urang hees tamba tunduh, nginum tuak tamba hanaang, nyatu tamba ponyo ulah urang kajongjonan". Artinya, hendaklah tidur sekedar menghilangkan kantuk, minum tuak sekedar menghilangkan haus, makan sekedar menghilangkan lapar, jadi dalam perikehidupan tidak berlebihan.
Ini sejalan dengan ajaran Islam, sikap tamak merupaka sikap yang sangat tercela. Bahkan, dalam hidup kita juga dianjurkan untuk adanya keseimbangan di dunia dan akhirat, seperti diungkapkan dalam hadis, "carilah duniamu seakan kamu akan hidup 1000 tahun lagi, tapi ingatlah akhiratmu seakan kamu akan mati esok hari."
Manusia Sunda sebagai pribadi digambarkan oleh tingkah laku dan budi bahasanya. Oleh karena itu, dituntut "kudu hade gogog hade tagog (baik budi bahasa dan tingkah laku) dan "nyaur kudu diukur, nyabda kudu diungang" serta manusia Sunda juga harus "sacangreud pageuh, sagolek pangkek" (teguh pendirian tak pernah ingkar janji). Pandangan hidup orang Sunda terhadap lingkungan sosialnya diungkapkan dalam peribahasa, silih asah, silih asih, dan silih asuh serta "ulah ngaliarkeun taleus ateul. (jangan menyebarkan keburukan/kejahatan)"
Ini juga merupakan nilai-nilai utama dalam Islam, seperti diungkapkan dalam hadis, "seutama-utama manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya". Artinya, kehadiran kita bukan saja tidak memnimbulkan kerusakan atau kesulitan bagi orang lain tetapi juga dapat memberikan manfaat dan maslahat.
Dalam filosofi ketuhanan, orang Sunda mempunyai keyakinan seperti ajaran Islam, innalillaahi wainna ilaihi rojiun dengan ungkapan "mulih ka jati mulang ka asal". Dengan demikian juga dalam menjalani kehidupan, orang Sunda mempunyai norma dan etika seperti "ulah pagirigiri calik pagirang-girang tampian" (janganlah berebut kekuasaan dan jabatan).
Dalam Islam malah ada hadis, yang berbunyi, "jangan berikan jabatan kepada orang yang memintanya". Hal ini berbeda dengan fenomena demokrasi sekarang, dimana orang yang ingin jabatan harus pamer dan menyombongkan diri lewat kampanye, istilah Sundanya, "agul ku payung butut" (bangga dengan prestasi buruk).
Nilai kesundaan yang islami lainnya seperti, "ulah nyaliksik ka buuk leutik" (janganlah memeras rakyat kecil), "ulah kumeok memeh dipacok" (jangan mundur sebelum berusaha), "kudu bisa ka bala ka bale" (bisa fleksibel dalam mengerjakan apa saja) dan mun teu ngakal moal ngeukeul, mun teu ngrah moal ngarih (berusaha/berikhtiar sekuatnya).
Demikian juga dalam membangun lingkungan sosial yang damai dalam Islam istilah rahmatan lil 'alamin, orang Sunda mempunyai filosofi, "tiis ceuli herang panon" (hidup damai dan tentram) serta "kudu bisa mihapekeun maneh" (tingkah laku menyesuikan dengan lingkungan).
Nilai-nilai itu turunan atau tafsir terhadap nilai-nilai keislaman, tetapi juga warisan budaya dan filosofi masyarakat Sunda bahkan sebelum datangnya Islam. Ini tidak aneh, karena Islam sebagai agama fitrah pada dasarnya saluran dan peringatan terhadap kecenderungan baik (hanif) dalam diri manusia. Dengan begitu, tak berlebihan jika K.H Endang Saefudin Anshari (alm.) secara retoris pernah mengatakan seperti dikutip Ajip Rosidi, "Sunda teh Islam, Islam teh Sunda".
Penulis, Rektor Unpas, Sekjen PB Paguyuban Pasundan dan Ketua Aptisi Jabar-Banten.

Sunday, December 9, 2007

karakter manusia sunda

bisa jadi tokoh-tokoh di dalam cerita sunda memang berpengaruh terhadap karakter orang-orang sunda. utamanya si kabayan.
atau mungkin juga, karakter-karakter tersebut memang dibuat dari beberapa karakter umum manusia sunda.

karakter manusia sunda
oleh rezameutia


Si Kabayan

Tokoh Si Kabayan adalah tokoh cerita rakyat Sunda turun temurun yang paling populer dan sangat digemari. Si Kabayan dianggap sebagai tokoh ciptaan manusia Sunda yang hidup berpegang kepada pedoman 'cageur jeung bageur' (sehat lahir batin dan berbudi baik). Tipikal manusia Sunda yang ramah tamah kepada tamu, yang air mukanya lebih banyak cerah daripada masam, tidak bersikap aniaya kepada sesama manusia, gemar bergurau berkelakar, dan suka menertawakan ketololan diri sendiri.

Si Kabayan mengajak orang tertawa bersenang hati, cerita-cerita Si Kabayan bukan lah lelucon kosong tetapi sarat dengan isi tentang kehidupan. Si Kabayan merupakan tokoh luar biasa yang bisa menerima kritik atas dirinya sendiri.
Hanya manusia yang sehat lahir batin saja yang dapat menerima kritik dirinya sendiri dan menertawakan dirinya sendiri. Si Kabayan adalah puncak manifestasi manusia yang sudah menemukan puncak kesehatan lahir batin, yaitu manusia yang sudah 'teu naon-naon ku naon-naon' (tidak merasa apa-apa oleh apapun juga).

Ada cerita dari Prancis karya pengarang Moliere (1622-1673) yang berjudul 'Le Medicin Malgre Lui'. Dalam cerita tersebut tokoh Prancis yang bernama Sganaralle sangat mirip dengan karakter Si Kabayan yang pemalas namun cerdas,
pandai berbicara, dalam arti tak pernah terdesak ketika berbicara dengan orang lain, baik istrinya sendiri, para pamong praja ataupun mertuanya sendiri. Persis seperti karakter Si Kabayan dalam berbicara menghadapi Iteung, Ambu, dan Abah.


Sangkuriang

Berlainan dengan Si Kabayan, Sangkuriang adalah manifestasi jiwa yang terlalu yakin dengan kebenaran dirinya sendiri, sehingga tidak mau menerima kebenaran orang lain. Sangkuriang adalah karakter 'naon-naon ku naon-naon' (merasa apa-apa oleh apapun juga) dan yang tidak mau kebenaran orang lain sama sekali.

Sangkuriang adalah manusia yang penuh percaya diri, ketika ditantang oleh Dayang Sumbi agar membuat telaga dan perahu dalam semalam, segera menyanggupinya. Kesanggupan itu dapat dipenuhi pada waktunya, kalau saja Dayang Sumbi tidak membuat fajar palsu dari 'boeh rarang' (tenunan kain putih). Karena kecewa dan marah, Sangkuriang menendang perahu yang sedang dibuatnya sehingga menjelma menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Tokoh Sangkuriang adalah tokoh yang menyatukan segala hal yang ada diluar dirinya dan di dalam dirinya sendiri, berpadu dalam AKU-nya. Manusia sentral yang sekaligus merupakan dewa dan juga hewan, manusia yang jiwanya bergolak menyalakan api berkobar-kobar. Manusia yang menganggap dirinya sendiri sebagai Sumber Segala.

Keduanya ini sebenarnya merupakan kekayaan batin sifat manusia yang saling bertentangan satu sama lain. Hanya saja, cerita Sangkuriang akhir-akhir ini tidak digemari oleh masyarakat Sunda, mungkin disebabkan sifat ke-Aku-an yang terlalu egoistis. Padahal dari kedua cerita rakyat ini, jika diambil hikmah dan isi ceritanya, merupakan pelajaran sifat dan karakter batin manusia yang saling bertentangan satu dengan yang lainnya.